Posted by : Chocobain Senin, 09 Juni 2014





 Harga : Rp 40.000
Stock : Ada


Kasultanan Demak.
Raden Patah, Sultan Demak Bintoro cemas. Bukan terhadap bupati atau wilayah yang membangkang, tapi terhadap keberadaan Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging. Sebagai sesama cucu Brawijaya, Raden Patah pantas cemas karena Kebo Kenongo belum juga mau tunduk kepadanya. Dia khawatir, Kebo Kenongo akan menjadi “duri dalam daging” dalam pemerintahannya.
Raden Patah sangat khawatir karena takut sejarah Raden Wijaya yang mendirikan Tarik yang kemudian menjadi Majapahit dan memisahkan diri dari Jayakatwang, Singosari terulang. Dia juga tidak ingin seperti kasusnya Arya Wiraraja (ayahnya Ranggalawe) di Lumajang yang kemudian memberontak Raden Wijaya di era awal berdirinya Majapahit. Apalagi, Kebo Kenongo adalah cucu tertua Raja Brawijaya, yang berarti juga misanan (sepupu)-nya sendiri. Kebo Kenongo adalah putra Pangeran Jayaningrat yang masih keturunan Gajah Mada, dan ibunya adalah Pambayun, putri sulung Raja Brawijaya terakhir.
Walaupun tidak dalam kondisi ingin memberontak, pengaruh dan wibawa Ki Ageng Pengging cukup membuat miris hati Raden Patah, mengingat 40 tetua Tanah Jawa memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Pengging; yang kesemuanya itu murid-murid Syekh Siti Jenar. Diantaranya: Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Majasta, Ki Ageng Getas Aji, Ki Ageng Tambakbaya, Ki Ageng Tembalang, dll (hal 14). Dengan pengaruh yang begitu besar, sementara Ki Ageng Pengging diperingatkan berkali-kali tapi tidak mau tunduk, sangat bisa dipahami betapa gusarnya hati Raden Patah.
Dusun Pengging.
Rubiyah alias Nyi Ageng Pengging sebentar lagi babaran (melahirkan). Menjadi istimewa karena tiga orang sahabat Ki Ageng Pengging bermalam di Pengging. Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Ngerang. Selama 10 hari mereka menginap di Pengging.
Merasa mendapatkan kehormatan atas kunjungan teman-temannya itu, Ki Ageng Pengging kemudian membuat pertunjukan wayang beber. Ramailah rumah bangsawan Majapahit itu. Menjadi dalangnya adalah Ki Ageng Pengging sendiri. Pada saat pertunjukan masih berlangsung lahirlah jabang bayi, yang oleh Ki Ageng Tingkir diberi nama “Karebet”, Mas Karebet. Melihat aura yang terpancar dari bayi, Ki Ageng Tingkir meramal bahwa kelak si Karebet akan menjadi orang besar. Atas seijin Ki Ageng Pengging, Karebet dibawa Ki Ageng Tingkir ke Dusun Tingkir (Bab I). Sejak saat itu, Karebet dipanggil Joko Tingkir.
Tidak lama, Ki Ageng Tingkir wafat. Joko Tingkir dibawa kembali oleh Ki Ageng Pengging. Sementara di Demak, Raden Patah mengutus Sunan Kudus untuk menyadarkan Ki Ageng Pengging. Bersama 7 santrinya pergilah mereka ke Pengging.
Sesampai di Pengging, Ki Ageng Pengging masih tetap tidak mau datang ke Demak. Terjadilah perdebatan sengit. Ki Ageng pengging akhirnya tewas di tangan Sunan Kudus setelah sikunya diiris dengan senjata sakti milik Sunan Kudus.
Waktu itu, Joko Tingkir masih bayi. Sepeninggal ayahnya, Joko Tingkir dirawat oleh ibunya. Karena terus didera sakit yang berkepanjangan, Nyi Ageng Pengging akhirnya wafat. Bayi Joko Tingkir diambil lagi oleh Nyi Ageng Tingkir (Bab II).
Masa kecil dan remaja Joko Tingkir dihabiskan di Dusun Tingkir. Atas saran ibu angkatnya, dia berguru ke Ki Ageng Selo. Dia belajar ilmu agama, kanuragan, kedigdayaan tingkat tinggi. Joko Tingkir dijadikan cucu angkat Ki Ageng Selo.
Ki Ageng Selo masih ada turunan Majapahit. Ki Ageng Selo mendapatkan firasat dalam mimpinya bahwa kelak cucu angkatnya akan menjadi raja, “Tiang Utama Tanah Jawa”, bukan dari anak-keturunannya. Hal ini yang menyebabkan dia iri dan berniat membunuh Joko Tingkir, walaupun kemudian diurungkannya.
Untuk menggapai firasat agung tersebut, Ki Ageng Selo menyarankan Joko Tingkir agar segera mengabdi ke Kerajaan Demak. Sebelum pergi, Ki Ageng Selo meminta kepada Joko Tingkir agar kelak anak-turunannya diberi kesempatan menjadi pemimpin tanah Jawa. Joko Tingkir menyanggupinya.
Sehabis dari Selo, Joko Tingkir bukan ke Demak tapi menuju ke Tingkir untuk menemui ibu angkatnya, Nyi Ageng Tingkir. Atas saran Sunan Kalijaga, Joko Tingkir diperintahkan untuk segera pergi ke Demak (Bab III).
Atas saran ibu angkatnya, Joko Tingkir diminta menemui pamannya yang telah lebih dulu mengabdi di Kerajaan Demak, Ki Lurah Ganjur namanya. Atas anjuran pamannya pula Joko Tingkir akhirnya bisa mengabdi kepada Sultan Trenggono sebagai Lurah Tamtama pengawal sultan –kalau sekarang Paspampres- dengan sebutan Ki Lurah Tingkir sekaligus dijadikan anak angkat sultan. Prestasi tersebut dicapai setelah Joko Tingkir beberapa kali mampu menyelamatkan nyawa sultan dan keluarga, diantaranya menaklukkan macan dan buaya. Dari sinilah awal pandangan mata Joko Tingkir terpaut pada putri keempat sultan, Retno Ayu Ratu Mas Cepaka, yang kelak akan menjadi permaisurinya (Bab IV).
Begitu besar kepercayaan sang sultan menyebabkan sosok Joko Tingkir menjadi inspirasi bagi sultan untuk mencari pemuda-pemuda yang sakti mandraguna untuk dijadikan sebagai pasukan Demak agar menjadi kuat. Sebagai tim pengujinya, Joko Tingkir sendiri.
Di sinilah persoalan besar itu muncul. Di antara para peserta seleksi tamtama, terdapatlah seorang pemuda sakti berilmu hitam dari Kedu Pingit bernama Dadung Awuk. Dengan congkak dan sombongnya Dadung Awuk memaksa Joko Tingkir agar dia bisa diterima sebagai prajurit Demak, padahal proses seleksi sudah ditutup. Permintaan tersebut tentu saja ditolak oeh Joko Tingkir, tapi Dadung Awuk memaksa dengan cara menantang. Karena terus didesak dengan tantangan, hilanglah kesabaran Joko Tingkir. Dengan sehelai daun sirih, dilemparlah daun tersebut ke tubuh Dadung Awuk, dan pemuda itupun roboh.
Sultan Trenggono kalap-murka. Dia menuding Joko Tingkir sengaja membunuh Dadung Awuk karena takut posisinya terancam jika Dadung Awuk masuk jadi tamtama Demak. Dengan penuh amarah tanpa mendengarkan pembelaan Joko Tingkir, diusirlah Joko Tingkir dari kerajaan (Bab V). Dalam hal ini, sepertinya sultan mendapatkan informasi yang keliru (hasutan), sehingga tanpa ampun mengusir Joko Tingkir.
Pikiran Joko Tingkir limbung. Dia pergi begitu saja tanpa arah tujuan yang jelas. Dan ketika tubuhnya ambruk terkulai, tertidur di hutan, tanpa sadar dia ditemukan Ki Ageng Butuh dan diajak untuk ke rumahnya. Di Butuh, Joko Tingkir digembleng ilmu kanoragan oleh Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Oleh keduanya, Joko Tingkir juga disarankan untuk selanjutnya belajar ke Ki Ageng Banyubiru.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Jual Buku Murah - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -